Selamat Datang di blog sederhana ini,mudah mudahan bisa share dan bermanfaat banyak bagi anda

October 20, 2010

BIOGRAFI K.H NOER ALIE

Lahir : 15 juli 1914 di Kp. Ujungmalang, Bekasi
Wafat : 03 may 1992 dalam usia 78 tahun
Nama Ayah :H. Anwar bin Layu
Nama Ibu :Hj. Maimunah binti Tarbin

Pengabdian Untuk agama dan BAngsa
1. 1934-1940) Noer Ali belajar di Mekah
2. 1937 menjadi Ketua Perhimpunan Pelajar Betawi di Mekah
3. 1940 Mendirikan Pondok Pesantren At-Taqwa
4. 1945 Ketua Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Cabang Babelan
5. 1945 Ketua Lasykar Rakyat Bekasi
6. 1945 Komandan Batalyon III Hisbullah Bekasi
7. 1945 Komandan Markas Pusat Hisbullah-Sabilillah (MPHS) Jakarta Raya di Karawang
8. 1948 Koordinator Kabupaten Jatinegara
9. 1950 Ketua Panitia Amanat Rakyat Bekasi untuk bergabung ke dalam NKRI
10.1950 Ketua Masyumi Cabang Jatinegara
11.1956 anggota Dewan Konstituante
12.1957 Pimpinan Harian/Majelis Syuro Masyumi Pusat
13.1958 Ketua Tim Perumus Konferensi Alim Ulama-Umaro se-Jawa Barat di Lembang Bandung, yang kemudian melahirkan Majelis Ulama Indonesia Jawa Barat.
14.1971-1975 menjadi Ketua MUI Jawa Barat
15.1972 menjadi Ketua Umum Badan Kerja Sama Pondok Pesantren (BKSPP) Jawa Barat
Read rest of entry

October 09, 2010

PINDAH AGAMA : HALAL, TAPI TUHAN TIDAK SUKA

Oleh Taufik Damas

Pindah agama hampir sama dengan kasus perceraian (suami-istri) dalam rumah tangga. Ia merupakan perbuatan halal, tapi Tuhan tidak suka karena akan melahirkan hal-hal yang tidak diinginkan. Setiap umat bergama lebih diharapkan mampu melihat dan memperdalam (mempertegas) nilai-nilai humanistik yang ada dalam agamanya masing-masing, sekaligus mengeliminasi doktrin-doktrin yang tidak sesuai dengan semangat kemanusiaan.

Beberapa hari belakangan ini media massa, khususnya infotainment, memberitakan tentang kasus pindah agama beberapa artis Indonesia. Sebut saja nama Pinkan Mambo dan Rianti Cartwright yang sempat diisukan telah pindah agama karena pernikahan mereka dengan pasangan beda agama. Lepas dari benar atau tidaknya berita tersebut, wacana nikah pasangan beda agama menjadi relevan untuk dibahas kembali.

Memilih agama, pada dasarnya, adalah hak setiap individu. Islam memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih agama sesuai dengan kehendak dan keyakinan masing-masing. Islam menegaskan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama (lâ ikrâha fî ad-dîn) karena setiap orang dipersilakan memilih dan menjalankan agama berdasarkan akal sehat dan hati nurani. Keterpaksaan dalam beragama hanya akan melahirkan sosok-sosok labil yang tidak memiliki dasar filosofis-rasional dalam beragama.

Thaha Jabir Ulwani, Direktur International Institute of Islamic Thought (IIIT) di Amerika Serikat, menyatakan bahwa sejatinya tidak ada sanksi duniawi terhadap orang yang pindah agama. Ia menyatakan hal ini karena Al-Quran tidak pernah memaksa manusia dalam menentukan agama yang ingin dianut. Selain itu, Nabi Muhammad pun tidak pernah memberikan sanksi kepada orang-orang yang keluar dari Islam. Sanksi duniawi terhadap mereka yang pindah agama merupakan produk ulama fikih di kemudian hari dan lebih karena alasan politik dan keamanan (Lâ Ikrâha fî ad-Dîn, Shourouk Dauliyah & IIIT [Mesir]).

Dalam konteks pluralisme, semua agama sama karena bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa. Semua agama mengajarkan nilai-nilai baik yang harus dijalankan oleh umatnya masing-masing. Meski demikian, tidak dipungkiri bahwa dalam agama terdapat perbedaan doktrin yang tidak perlu dipertentangkan. Perbedaan tersebut harus dipahami sebagai bagian dari hak individu setiap pemeluk agama. Mempertentangkan perbedaan yang ada hanya akan melahirkan sikap permusuhan yang merugikan semua pihak. Tugas para pemeluk agama adalah menegaskan pentingnya nilai-nilai kebersamaan dan kesamaan yang dapat diterima oleh semua pihak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Berdasarkan pandangan pluralistik ini pula pindah agama menjadi sikap yang tidak relevan. Secara sosial, perubahan agama seseorang tidak hanya menyangkut kepentingan pribadi. Banyak faktor yang ikut terpengaruh oleh sikap pindah agama: keluarga, masyarakat, bahkan komunitas agama yang ditinggalkan. Walau tidak dengan kata-kata, pindah agama adalah tohokan paling keras bagi sebuah agama yang ditinggalkan oleh pemeluknya. Tokoh-tokoh agama merasa terpukul jika umatnya melakukan tindakan pindah agama. Karena itulah, pindah agama bukan solusi terbaik bagi umat untuk menyelesaikan problem sosial-teologis-ideologis yang mereka hadapi.

Pindah agama hampir sama dengan kasus perceraian (suami-istri) dalam rumah tangga. Ia merupakan perbuatan halal, tapi Tuhan tidak suka karena akan melahirkan hal-hal yang tidak diinginkan. Setiap umat beragama lebih diharapkan mampu melihat dan memperdalam (mempertegas) nilai-nilai humanistik yang ada dalam agamanya masing-masing, sekaligus mengeliminasi doktrin-doktrin yang tidak sesuai dengan semangat kemanusiaan.

Pindah Agama Karena Pernikahan

Akibat tidak ada undang undang yang memperbolehkan pasangan nikah beda agama di Indonesia, maka setiap pasangan harus menjadi pemeluk satu agama yang sama agar pernikahan mereka dapat pengakuan sah di mata negara. UU Perkawinan No.1 tahun 1974 pada pasal 2 ayat 1 menyatakan bahwa suatu perkawinan dapat dinyatakan sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaan pasangan yang melakukan pernikahan.
UU ini sebenarnya tidak melarang pernikahan pasangan beda agama. UU ini hanya menyatakan bahwa pernikahan dinyatakan sah jika pernikahan itu sah di mata agama. Pernikahan beda agama akan dianggap sah oleh negara jika dianggap sah oleh agama masing-masing.

Para ulama Islam memilik pandangan yang tidak seragam dalam hal ini. Ada pendapat yang menyatakan pernikahan pasangan beda agama tidak boleh (haram) secara mutlak. Seorang muslim, laki-laki atau perempuan, tidak boleh menikah dengan pasangan yang beda agama. Pendapat yang lain menyatakan bahwa seorang muslim laki-laki boleh menikah dengan perempuan Ahlul Kitab (Yahudi atau Kristen), dan tidak sebaliknya. Namun, pada kenyataannya, seorang muslim lak-laki pun tidak boleh menikah dengan perempuan beda agama demi menjaga kemaslahatan. Dalam Perjanjian Lama, Kitab Ulangan 7:3, umat Nasrani juga dilarang untuk menikah dengan pasangan beda agama. Berbagai pendapat ini semestinya dapat ditinjau ulang agar lebih sesuai dengan kenyataan yang terjadi di masa kini.

Salah satu latar belakang orang pindah agama adalah kasih-sayang (cinta) yang kemudian ditindaklanjuti dalam institusi pernikahan. Realita yang ada menunjukkan bahwa tidak sedikit pasangan kekasih beda agama menjadi seagama demi melancarkan proses pernikahan mereka. Alasan paling mendasar adalah setiap agama “belum” memberikan legitimasi bagi pernikahan beda agama. Maka, terjadilah konversi salah satu pasangan yang sulit untuk dikatakan sebagai terdorong oleh kesadaran religiusitas individual. Dalam kasus seperti ini, pihak keluarga salah satu pasangan yang berpindah agama, tidak jarang harus merasa pasrah dan kalah. Lebih jauh dari itu, institusi pernikahan bisa jadi justru dipilih menjadi salah satu cara untuk mengajak orang lain pindah agama. Hal ini tentu bertentangan dengan semangat toleransi dan pluralisme.

Untuk menyelesaikan problem seperti ini setiap agama dituntut untuk memberikan pintu legitimasi bagi pasangan beda agama agar tidak terjadi keterpaksaan pindah agama dalam pernikahan. Setiap agama harus mendorong umatnya pada nilai-nilai kebersamaan sambil mengesampingkan berbagai perbedaaan. Karena tujuan beragama tidak lain adalah menciptakan kehidupan yang damai dan sejahtera, tanpa ada pihak mana pun yang merasa terpaksa. Baik terpaksa memilih atau terpaksa meninggalkan: lâ ikrâha fî ad-dîn (tidak ada paksaan dalam beragama).

SUMBER : JIL
Read rest of entry

FITRAH

OLEH : ERIK HARYADI


Ketika umat Islam merayakan Idul Fithri, sesungguhnya harus di­pahami bahwa seluruh bangunan ajaran Islam dimulai dengan konsep fithrah. Mengapa? Karena manusia dilahirkan dalam fithrah (keadaan asal yang suci).

Dengan berpuasa secara baik dan benar, maka pada saat hari Idul Fitri dengan sendirinya orang beriman akan menyandang predikat fitri, artinya ia kembali kepada kesu­ nurani, atau yang alamiah—sebab menurut alamiahnya (by nature) manusia itu mencintai kebajikan dan kebenaran. Setelah setahun hati nurani tertutup oleh kepentingan diri, vested interest, kepicikan hati, kesempitan diri, dengan men­jalankan ibadah puasa secara be­nar—tidak hanya menahan makan, mi­num serta semua yang dapat membatalkan puasa seperti dalam pemahaman fiqih formal namun juga mampu mengendalikan dari godaan dan dorongan hawa naf­su—maka hati nurani akan menjadi baik kembali. Kembali memiliki ke­pekan ruhani terhadap aturan moral atau akhlak.

Fitrah, dalam hal ini adalah kejadian asal yang suci. Maka manusia me­nurut asal kejadiannya adalah makh­luk yang suci. Dalam sebuah Hadis dijelaskan bahwa “Setiap anak dilahirkan dalam kesucian”. Akibat dari fitrah ini adalah ma­nusia menjadi hanif, yaitu cen­derung kepada yang baik dan benar. Ka­rena itu agama yang benar di­sebut sebagai agama hanif, seperti agama Ibrahim, “Ikutilah ajaran Ibrahim yang murni” (Q., 16: 123), yaitu agama yang secara alami mengikat kepada yang baik dan benar. Hal demikian berarti merupakan pandangan yang sangat optimis mengenai manusia.

Di dalam Al-Quran terdapat ayat yang sangat penting, yaitu Maka hadapkanlah wajahmu benar-benar kepada agama, menurut fitrah Allah yang atas pola itu Ia mencip­takan manusia. Tiada perubahan pada ciptaan Allah, itulah agama yang baku, tetapi kebanyakan ma­nusia tidak tahu (Q., 30: 30). Dari ayat ini diketahui bahwa agama yang lurus adalah agama kema­nusiaan primordial yang di dalam Al-Quran disebut Adam. Maka Adam merupakan simbol dari ma­nusia primordial.

Penciptaan manusia sebagai makh­luk yang baik sehingga selalu mencari yang baik merupakan ketetapan untuk selamanya. Arti­nya, bahwa sampai kapan pun sifat manusia akan tetap seper­ti itu. Hal ini kemudian digarap oleh filosof Muslim yang menjadi suatu ajaran menge­nai perennial wisdom, bahwa kehanifan dan fitrah menghasilkan suatu wisdom, hikmah. Yaitu suatu wisdom yang abadi, hati manusia yang paling dalam yang selalu cenderung kepada kesucian. Inilah yang sekarang dikenal sebagai perennialisme, yaitu mencoba meng­ungkapkan apa jati diri manusia yang paling abadi, yang tidak lain adalah fitrahnya dan ke­hanifannya.

Berbeda dengan pandangan di atas, dalam agama Kristen, karena manusia lahir mewarisi dosa dari Adam, manusia diciptakan da­lam kejelekan dan keburukan. Tetapi Tuhan sebagai Yang Maha Penga­sih tidak mau melihat umat-Nya sengsara sehingga diutuslah Anak-Nya untuk menjadi sang penebus dosa. Dalam hal dosa-dosa biasa memang dapat ditebus dengan kambing sebagai kurban, tetapi dalam hal dosa asal, karena kelewat besar, maka kurban apa pun tidak dapat menebusnya ke­cuali kalau Tuhan sendiri yang berkurban. Maka Yesus merupakan Tuhan yang telah menjadi manusia. Perkataan Immanuel yang sebe­narnya berarti “Tuhan beserta kita” berubah menjadi Tuhan yang telah menjadi manusia, yaitu Yesus.

Read rest of entry

CERITA BIJAK : PERTAPA

Suatu ketika di sore hari yang terasa teduh, nampak seorang pertapa
muda sedang bermeditasi di bawah pohon, tidak jauh dari tepi sungai.
Saat sedang berkonsentrasi memusatkan pikiran, tiba-tiba perhatian
pertapa itu terpecah kala mendengarkan gemericik air yang terdengar
tidak beraturan. Perlahan-lahan, ia kemudian membuka matanya.
Pertapa itu segera melihat ke arah tepi sungai di mana sumber suara tadi
berasal. Ternyata, di sana nampak seekor kepiting yang sedang berusaha
keras mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meraih tepian sungai
sehingga tidak hanyut oleh arus sungai yang deras. Melihat hal itu, sang
pertapa merasa kasihan. Karena itu, ia segera mengulurkan tangannya
ke arah kepiting untuk membantunya. Melihat tangan terjulur, dengan
sigap kepiting menjepit jari si pertapa muda. Meskipun jarinya terluka
karena jepitan capit kepiting, tetapi hati pertapa itu puas karena bisa
menyelamatkan si kepiting. Kemudian, dia pun melanjutkan kembali
pertapaannya. Belum lama bersila dan mulai memejamkan mata,
terdengar lagi bunyi suara yang sama dari arah tepi sungai. Ternyata
kepiting tadi mengalami kejadian yang sama. Maka, si pertapa muda
kembali mengulurkan tangannya dan membiarkan jarinya dicapit oleh
kepiting demi membantunya. Selesai membantu untuk kali kedua,
ternyata kepiting terseret arus lagi. Maka, pertapa itu menolongnya
kembali sehingga jari tangannya makin membengkak karena jepitan
capit kepiting. Melihat kejadian itu, ada seorang tua yang kemudian
datang menghampiri dan menegur si pertapa muda, "Anak muda,
perbuatanmu menolong adalah cerminan hatimu yang baik. Tetapi,
mengapa demi menolong seekor kepiting engkau membiarkan capit
kepiting melukaimu hingga sobek seperti itu?" Paman, seekor kepiting
memang menggunakan capitnya untuk memegang benda. Dan saya
sedang melatih mengembangkan rasa belas kasih. Maka, saya tidak
mempermasalahkan jari tangan ini terluka asalkan bisa menolong nyawa
mahluk lain, walaupun itu hanya seekor kepiting," jawab si pertapa
muda dengan kepuasan hati karena telah melatih sikap belas kasihnya
dengan baik. Mendengar jawaban si pertapa muda, kemudian orang tua
itu memungut sebuah ranting. Ia lantas mengulurkan ranting ke arah
kepiting yang terlihat kembali melawan arus sungai. Segera, si kepiting
menangkap ranting itu dengan capitnya. " Lihat Anak muda. Melatih
mengembangkan sikap belas kasih memang baik, tetapi harus pula
disertai dengan kebijaksanaan. Bila tujuan kita baik, yakni untuk
menolong mahluk lain, bukankah tidak harus dengan cara
mengorbankan diri sendiri. Ranting pun bisa kita manfaatkan, betul
kan?" Seketika itu, si pemuda tersadar. "Terima kasih paman. Hari ini
saya belajar sesuatu. Mengembangkan cinta kasih harus disertai dengan
kebijaksanaan. Di kemudian hari, saya akan selalu ingat kebijaksanaan
yang paman ajarkan." Mempunyai sifat belas kasih, mau memerhatikan
dan menolong orang lain adalah perbuatan mulia, entah perhatian itu
kita berikan kepada anak kita, orang tua, sanak saudara, teman, atau
kepada siapa pun. Tetapi, kalau cara kita salah, seringkali perhatian atau
bantuan yang kita berikan bukannya memecahkan masalah, namun
justru menjadi bumerang. Kita yang tadinya tidak tahu apa-apa dan
hanya sekadar berniat membantu, malah harus menanggung beban dan
kerugian yang tidak perlu. Karena itu, adanya niat dan tindakan berbuat
baik, seharusnya diberikan dengan cara yang tepat dan bijak. Dengan
begitu, bantuan itu nantinya tidak hanya akan berdampak positif bagi
yang dibantu, tetapi sekaligus membahagiakan dan membawa kebaikan
pula bagi kita yang membantu.
Read rest of entry

CERITA BIJAK : IKAN

Pada tepian sebuah sungai, tampak seorang anak kecil sedang bersenangsenang.
Ia bermain air yang bening di sana. Sesekali tangannya
dicelupkan ke dalam sungai yang sejuk. Si anak terlihat sangat
menikmati permainannya. Selain asyik bermain, si anak juga sering
memerhatikan seorang paman tua yang hampir setiap hari datang ke
sungai untuk memancing. Setiap kali bermain di sungai, setiap kali pula
ia selalu melihat sang paman asyik mengulurkan pancingnya. Kadang,
tangkapannya hanya sedikit. Tetapi, tidak jarang juga ikan yang didapat
banyak jumlahnya. Suatu sore, saat sang paman bersiap-siap hendak
pulang dengan ikan hasil tangkapan yang hampir memenuhi
keranjangnya, si anak mencoba mendekat. Ia menyapa sang paman
sambil tersenyum senang. Melihat si anak mendekatinya, sang paman
menyapa duluan. "Hai Nak, kamu mau ikan? Pilih saja sesukamu dan
ambillah beberapa ekor. Bawa pulang dan minta ibumu untuk
memasaknya sebagai lauk makan malam nanti," kata si paman ramah.
"Tidak, terima kasih Paman," jawab si anak. "Lo, paman perhatikan,
kamu hampir setiap hari bermain di sini sambil melihat paman
memancing. Sekarang ada ikan yang paman tawarkan kepadamu,
kenapa engkau tolak?" "Saya senang memerhatikan Paman memancing,
karena saya ingin bisa memancing seperti Paman. Apakah Paman mau
mengajari saya bagaimana caranya memancing?" tanya si anak penuh
harap. "Wah wah wah. Ternyata kamu anak yang pintar. Dengan belajar
memancing engkau bisa mendapatkan ikan sebanyak yang kamu mau di
sungai ini. Baiklah. Karena kamu tidak mau ikannya, paman beri kamu
alat pancing ini. Besok kita mulai pelajaran memancingnya, ya?"
Keesokan harinya, si bocah dengan bersemangat kembali ke tepi sungai
untuk belajar memancing bersama sang paman. Mereka memasang
umpan, melempar tali kail ke sungai, menunggu dengan sabar, dan hup...
kail pun tenggelam ke sungai dengan umpan yang menarik ikan-ikan
untuk memakannya. Sesaat, umpan terlihat bergoyang-goyang didekati
kerumunan ikan. Saat itulah, ketika ada ikan yang memakan umpan,
sang paman dan anak tadi segera bergegas menarik tongkat kail dengan
ikan hasil tangkapan berada diujungnya. Begitu seterusnya. Setiap kali
berhasil menarik ikan, mereka kemudian melemparkan kembali kail yang
telah diberi umpan. Memasangnya kembali, melemparkan ke sungai,
menunggu dimakan ikan, melepaskan mata kail dari mulut ikan, hingga
sore hari tiba. Ketika menjelang pulang, si anak yang menikmati hari
memancingnya bersama sang paman bertanya, "Paman, belajar
memancing ikan hanya begini saja atau masih ada jurus yang lain?"
Mendengar pertanyaan tersebut, sang paman tersenyum bijak. "Benar
anakku, kegiatan memancing ya hanya begini saja. Yang perlu kamu
latih adalah kesabaran dan ketekunan menjalaninya. Kemudian fokus
pada tujuan dan konsentrasilah pada apa yang sedang kamu kerjakan.
Belajar memancing sama dengan belajar di kehidupan ini, setiap hari
mengulang hal yang sama. Tetapi tentunya yang diulang harus hal-hal
yang baik. Sabar, tekun, fokus pada tujuan dan konsentrasi pada apa
yang sedang kamu kerjakan, maka apa yang menjadi tujuanmu bisa
tercapai." Sama seperti dalam kehidupan ini, sebenarnya untuk meraih
kesuksesan kita tidak membutuhkan teori-teori yang rumit, semua
sederhana saja, Sepanjang kita tahu apa yang kita mau, dan kemudian
mampu memaksimalkan potensi yang kita miliki sebagai modal,
terutama dengan menggali kelebihan dan mengasah bakat kita, maka
kita akan bisa mencapai apa yang kita impikan dan cita-citakan.
Apalagi, jika semua hal tersebut kita kerjakan dengan senang hati dan
penuh kesungguhan. Dengan mampu mematangkan kelebihan-kelebihan
kita secara konsisten, maka sebenarnya kita sedang memupuk diri kita
untuk menjadi ahli di bidang yang kita kuasai. Sehingga, dengan
profesionalisme yang kita miliki, apa yang kita perjuangkan pasti akan
membuahkan hasil yang paling memuaskan.
Read rest of entry

CERITA BIJAK : KASIH IBU

Dikisahkan, ada seorang pemuda berusia menjelang 30 tahun. Namun
sayangnya, ia hanya memiliki kemampuan berpikir layaknya anak
berumur di bawah 10 tahun. Ibunya dengan penuh kasih memelihara dan
mendidik si anak agar kelak bisa hidup mandiri dengan baik, terlebih
karena ia merasa anaknya punya kemampuan berpikir yang sangat
minim.Si anak sangat mencintai ibunya. Suatu hari dia berkata, "Ibu,
aku sangat senang melihat ibu tertawa, wajah ibu begitu cantik dan
bersinar. Bagaimana caranya agar aku bisa membuat ibu tertawa setiap
hari?""Anakku, berbuatlah baik setiap hari. Maka, ibu akan tertawa
setiap hari," jawab si ibu. "Lantas, bagaimana caranya berbuat baik
setiap hari?" tanya si anak. "Berbuat baik adalah jika kamu bekerja,
bekerjalah dengan sungguh-sungguh. Bantulah orang lain terutama
orang-orang tua yang perlu dibantu, sakit atau kesepian. Kamu bisa
sekadar menemani atau membantu meringankan pekerjaan mereka.
Perlakukanlah orang-orang tua itu sama seperti kamu membantu ibumu.
Pesan ibu, jangan menerima upah ya. Setelah selesai membantu,
mintalah sobekan tanggalan dan kumpulkan sesuai urutan nomornya.
Kalau nomornya urut artinya kamu sudah berbuat baik setiap hari,
dengan begitu ibu pun setiap hari pasti akan senang dan tertawa," jawab
si ibu sambil membelai sayang anak semata wayangnya. Sejak ibunya
meninggal, karena kenangan dan keinginannya melihat ibunya tertawa,
setiap hari sepulang kerja, dia berkeliling kampung membantu orangorang
tua, kadang memijat, menimba air, memasakkan obat, atau
sekadar menemani dengan senang dan ikhlas. Bila ditanya orang kenapa
hanya sobekan tanggalan yang diterimanya setiap hari? Dia pun
menjawab, "Karena setiap hari, setibanya di rumah, sobekan tanggalan
yang aku kumpulkan, kususun sesuai dengan nomor urutnya. Maka
setiap hari aku seakan bisa mendengar Ibuku sedang melihatku dan
tertawa bahagia di atas sana." Si pemuda yang berpikiran sederhana itu
telah menjadi sahabat banyak orang di desa. Sehingga suatu ketika, atas
usul dari seluruh warga, karena kebaikan hatinya, dia dianugerahi oleh
pemerintah bintang kehormatan dan dana pensiun selama hidup untuk
menjamin tekadnya, yakni agar setiap hari bisa membantu orang lain di
sisa kehidupannya. Untuk kehidupan saat ini, memang rasanya cukup
sulit untuk menemukan orang yang membantu orang lain tanpa ada
keinginan untuk menerima balasan. Padahal, esensi kehidupan manusia
sebenarnya adalah saling bantu membantu, menolong dan ditolong.
Padahal sebenarnya, bila kita bisa berbuat baik dan membantu orang
lain sesuai dengan yang dibutuhkan, akan memberikan rasa yang nikmat
sekali. Tentu, untuk berbuat baik dan membantu orang lain ini
membutuhkan kesadaran, latihan, dan membiasakan diri terus menerus.
Karena itu, mari kita praktekkan pepatah sederhana ini: Tiap hari
melakukan satu kebaikan. Dengan begitu, hidup akan terasa lebih
hidup, dan akan kita dapatkan kebahagiaan yang sebenarnya.
Read rest of entry

CERITA BIJAK : LABA-LABA

Di suatu sore hari, tampak seorang pemuda tengah berada di sebuah
taman umum. Dari raut wajahnya tampak kesedihan, kekecewaan dan
frustasi yang menggantung disana. Dia sebentar berjalan dengan langkah
gontai dan kepala tertunduk lesu, sebentar terduduk dan menghela napas
panjang, kegiatan itu diulang berkali-kali seakan dia tidak tahu apa yang
hendak dilakukannya. Saat itu, tiba-tiba pandangan matanya terpaku
pada gerakan seekor laba-laba yang sedang membuat sarangnya diantara
ranting sebatang pohon tempat dia duduk sambil melamun. Dengan
perasaan iseng dan kesal diambilnya sebatang ranting dan segera sarang
laba-laba itupun menjadi korban kejengkelan dan keisengannya, dirusak
tanpa ampun. Perhatiannya teralih sementara untuk mengamati ulah si
laba-laba. Dalam hati dia ingin tahu, kira-kira Apa yang akan dikerjakan
laba-laba setelah sarangnya hancur oleh tangan isengnya? Apakah labalaba
akan lari terbirit-birit atau dia akan membuat kembali sarangnya di
tempat lain? Pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban untuk waktu
yang lama. Karena si laba-laba kembali ke tempatnya semula, mulai
mengulangi kegiatan yang sama, merayap-merajut-melompat, setiap
helai benang dipintalnya dari awal, semakin lama semakin lebar dan
hampir menyelesaikan seluruh pembuatan sarang barunya.Setelah
menyaksikan usaha si laba-laba yang sibuk bekerja lagi dengan semangat
penuh memperbaiki dan membuat sarang baru, kembali ranting si
pemuda beraksi dengan tujuan menghancurkan sarang tersebut untuk
kedua kalinya. Dengan perasaan puas dan ingin tahu, diamati ulah si
laba-laba, apa gerangan yang akan dikerjakannya setelah pengrusakan
sarang kedua kalinya? Ternyata untuk ketiga kalinya, laba-laba
mengulangi kegiatannya, kembali memulai dari awal dengan
bersemangat merayap-merajut-melompat dengan setiap helai benang
yang dihasilkan dari tubuhnya, memintal membuat sarang sedikit demi
sedikit. Melihat dan mengamati ulah laba-laba, membangun sarang yang
telah hancur untuk ke tigakalinya, saat itulah si pemuda mendadak
sontak tersadarkan. Tidak peduli berapa kali sarang laba-laba dirusak
dan dihancurkan, sebanyak itu pula laba-laba membangun sarangnya
kembali. dengan giat bekerja tanpa mengenal lelah, Semangat binatang
kecil sungguh luar biasa!! Hal itu menimbulkan perasaan malu Si
pemuda. Karena sesungguhnya, si pemuda berada di taman itu, dengan
hati dan perasaan gundah karena dia baru saja mengalami satu kali
kegagalan! Melihat semangat pantang menyerah laba-laba, dia pun
berjanji dalam hati : Aku tidak pantas mengeluh dan putus asa karena
telah mengalami satu kali kegagalan. Aku harus bangkit lagi ! berjuang
dengan lebih giat dan siap memerangi setiap kegagalan yang
menghadang, seperti semangat laba-laba kecil yang membangun
sarangnya kembali dari setiap kehancuran! Kegagalan bukan berarti kita
harus menyerah apalagi putus asa, kegagalan itu berarti kita harus
introspeksi diri dan berikhtiar lebih keras dari hari kemarin, selama kita
masih memiliki tujuan yang menggairahkan untuk di capai, tidak pantas
kita patah semangat ditengah jalan, karena dalam kenyataannya , tidak
ada sukses sejati yang tercipta tanpa melewati kegagalan. Jangan takut
gagal!
Read rest of entry

CERITA BIJAK : MITOS

Di dalam masyarakat terutama di negara berkembang, banyak sekali
masyarakatnya yang terjangkit penyakit mitos-mitos yang menyesatkan.
Di antara mitos itu adalah:
Mitos pendidikan, "Saya tidak bisa sukses karena pendidikan saya
rendah".
Mitos nasib, "Biar berjuang bagaimanapun, saya tidak mungkin sukses
karena nasib saya memang sudah begini dari sononya".
Mitos kesehatan, merasa diri tidak kuat secara fisik.
Mitos usia, "Ini pekerjaan untuk anak muda, saya terlalu tua untuk
pekerjaan ini".
Mitos gender, "Jelas aja bisa, dia kan perempuan sayakan pria" atau
sebaliknya.
Mitos shio, "dia shio macan memang bisa sukses, saya kan shio babi" dan
lain sebagainya. Dan penyakit mitos-mitos lainnya.
Jika mitos-mitos itu telah dijadikan pedoman hidup, maka nasib kita
akan sulit berubah. Sikap mental negatif seperti di atas, jelas merupakan
pengertian yang salah. Apalagi jika sudah masuk ke alam bawah sadar
kita, maka akan membawa dampak sangat negatif dalam kehidupan kita
secara menyeluruh. Membuat kita kalah dan gagal sebelum berjuang!!!
Dalam memasuki dunia bisnis, ada dua mitos yang berpengaruh paling
besar, yaitu masalah modal dan pendidikan. Saya justru tidak memiliki
keduanya saat memulai usaha dulu. Yang saya miliki hanyalah ide
membuat kartu kata-kata mutiara dan keberanian untuk mencoba. Saya
memiliki kemampuan kungfu, dan potensi diri itulah yang saya
manfaatkan. Saya mengajar kungfu secara privat untuk mendapatkan
modal awal. Jadi saya berangkat tanpa modal, tanpa uang, tanpa
pendidikan formal yang memadai, tapi mana yang mendahului usaha
saya? Ide! Dan keyakinan bahwa saya bisa sukses, saya berhak untuk
sukses! Dengan pemahaman itu, muncul keberanian untuk mencoba.
Dari penolakan-penolakan dan melalui proses perjuangan yang luar biasa
ulet, ulet, dan ulet, usaha itu baru bisa berkembang baik. Kegagalan dan
penolakan adalah konsekuensi dari setiap keputusan yang kita ambil.
Kita hanya punya dua pilihan, berhasil atau gagal. Kuncinya dalah
action dan mental yang positif. Sebab kedua pilihan itu bisa jadi "benar"
karena di balik setiap kegagalan terdapat proses pendidikan, sebuah
pelajaran untuk kita berbuat dan bertindak lebih bijak di kemudian hari.
Seperti kata-kata mutiara yang sering saya ucapkan: "Harga sebuah
kegagalan dan kesuksesan bukan dinilai dari hasil akhir, tetapi dari
proses perjuangannya". Jika itu disadari oleh semua orang, maka tidak
ada lagi yang namanya larut dalam frustasi, kecewa, depresi, apatis,
kehilangan motivasi, apalagi putus asa. TETAP MENJADI YANG
TERBAIK. Memang bukan suatu hal yang mudah untuk dilakukan.
Perlu motivasi yang kuat, komitmen pada tujuan, serta melewati proses
latihan dalam praktek kehidupan yang nyata. Sebagai manusia yang
mengerti, menyadari, dan dapat berpikir jernih, maka kita harus bisa dan
berani menentukan sikap dengan segenap tenaga, waktu, dan pikiran
untuk tetap mengembangkan diri semaksimal mungkin. Ilmu untuk
memelihara motivasi diri bisa dipelajari oleh siapa pun. Salah satu
latihan yang paling mudah untuk menguatkan diri sendiri adalah
melakukan self talk. Kita gali potensi-potensi positif dalam diri kita
dengan melakkukan dialog dengan diri kita sendiri. Yakinkan bahwa diri
kita memiliki kemampuan untuk sukses. Jika orang lain bisa sukses, kita
pun mempunyai hak untuk sukses sama seperti mereka. Keyakinan
kepada Tuhan, serta doa dan praktek dalam kehidupan ini merupakan
upaya yang mampu memberikan kekuatan motivasi diri yang luar biasa.
Sikap mental lain yan perlu kita pelihara adalah menyadari bahwa sukses
yang kita raih bukan hanya sekedar mengandalkan diri sendiri, selalu ada
andil orang lain di dalamnya. Rendah hati adalah kata kuncinya, tetapi
sebaliknya, tidak rendah diri pada saat mengalami kegagalan. Dengan
demikian tidak hanya semakin dewasa dalam mengarungi kehidupan ini,
yang pasti kualitas kehidupan kita akan semakin baik, semakin sukses,
yang pada akhirnya akan bermanfaat pula bagi orang lain.
Read rest of entry

CERITA BIJAK : KESUKSESAN

Di pagi hari buta, terlihat seorang pemuda dengan bungkusan kain berisi
bekal di punggungnya tengah berjalan dengan tujuan mendaki ke puncak
gunung yang terkenal. Konon kabarnya, di puncak gunung itu terdapat
pemandangan indah layaknya berada di surga. Sesampai di lereng
gunung, terlihat sebuah rumah kecil yang dihuni oleh seorang kakek tua.
Setelah menyapa pemilik rumah, pemuda mengutarakan maksudnya
"Kek, saya ingin mendaki gunung ini. Tolong kek, tunjukkan jalan yang
paling mudah untuk mencapai ke puncak gunung". Si kakek dengan
enggan mengangkat tangan dan menunjukkan tiga jari ke hadapan
pemuda, "Ada 3 jalan menuju puncak, kamu bisa memilih sebelah kiri,
tengah atau sebelah kanan?" "Kalau saya memilih sebelah kiri?" "Sebelah
kiri melewati banyak bebatuan". setelah berpamitan dan mengucap
terima kasih, si pemuda bergegas melanjutkan perjalanannya. Beberapa
jam kemudian dengan peluh bercucuran, si pemuda terlihat kembali di
depan pintu rumah si kakek. "Kek, saya tidak sanggup melewati
terjalnya batu-batuan". "Jalan sebelah mana lagi yang harus aku lewati
kek?" Si kakek dengan tersenyum mengangkat lagi 3 jari tangannya
menjawab "Pilihlah sendiri, kiri, tengah atau sebelah kanan?" "Jika aku
memilih jalan sebelah kanan?" "Sebelah kanan banyak semak berduri".
Setelah beristirahat sejenak, si pemuda berangkat kembali mendaki.
Selang beberapa jam kemudian, dia kembali lagi ke rumah si kakek.
Dengan kelelahan si pemuda berkata, "Kek, aku sungguh-sungguh ingin
mencapai puncak gunung. Jalan sebelah kanan dan kiri telah aku
tempuh, rasanya aku tetap berputar-putar di tempat yang sama sehingga
aku tidak berhasil mendaki ke tempat yang lebih tinggi dan harus
kembali kemari tanpa hasil yang kuinginkan, tolong kek tunjukkan jalan
lain yang rata dan lebih mudah agar aku berhasil mendaki hingga ke
puncak gunung" Si kakek serius mendengarkan keluhan si pemuda,
sambil menatap tajam dia berkata tegas "Anak muda! Jika kamu ingin
sampai ke puncak gunung, tidak ada jalan yang rata dan mudah!
Rintangan berupa bebatuan dan semak berduri, harus kamu lewati,
bahkan kadang jalan buntu pun harus kamu hadapi. Selama
keinginanmu untuk mencapai puncak itu tetap tidak goyah, hadapi
semua rintangan! Hadapi semua tantangan yang ada! Jalani langkahmu
setapak demi setapak, kamu pasti akan berhasil mencapai puncak
gunung itu seperti yang kamu inginkan! dan nikmatilah pemandangan
yang luar biasa !!! Apakah kamu mengerti? Dengan takjub si pemuda
mendengar semua ucapan kakek, sambil tersenyum gembira dia
menjawab "Saya mengerti kek, saya mengerti! Terima kasih kek! Saya
siap menghadapi selangkah demi selangkah setiap rintangan dan
tantangan yang ada! Tekad saya makin mantap untuk mendaki lagi
sampai mencapai puncak gunung ini. Dengan senyum puas si kakek
berkata, "Anak muda, Aku percaya kamu pasti bisa mencapai puncak
gunung itu!" selamat berjuang!!! Sama seperti analogi Proses pencapaian
mendaki gunung tadi. Untuk meraih sukses seperti yang kita inginkan,
Tidak ada jalan rata! tidak ada jalan pintas! Sewaktu-waktu, rintangan,
kesulitan dan kegagalan selalu datang menghadang. Kalau mental kita
lemah, takut tantangan , tidak yakin pada diri sendiri, maka apa yang
kita inginkan pasti akan kandas ditengah jalan. Hanya dengan mental
dan tekad yang kuat, mempunyai komitmen untuk tetap berjuang,
barulah kita bisa menapak di puncak kesuksesan.
Read rest of entry

CERITA BIJAK : TEKAD YANG KUAT

Dikisahkan seorang pemuda miskin, demi memenuhi panggilan kerja
yang mendesak dan sesegera mungkin, dia harus menempuh perjalanan
cukup jauh ke luar kota. Dia tahu, mobil tua yang dimiliki sebenarnya
tidak layak digunakan untuk perjalanan jarak jauh, tetapi keadaan
memaksa, sehingga akhirnya diputuskan tetap berangkat dengan mobil
tua tersebut. Di tengah perjalanan yang sepi, senja berselimut kegelapan
tiba diiringi hujan yang turun dengan deras. Tiba-tiba yang dikuatirkan
terjadi juga, setelah beberapa kali terbatuk-batuk, mesin mobil akhirnya
mati. Segala usaha yang serba terbatas telah dilakukan, tetapi sia-sia
belaka, mobil tetap diam. Dikelilingi kegelapan malam, hujan dan badai
terasa semakin tidak bersahabat. Selama beberapa jam tidak ada mobil
yang melintas, si pemuda hanya bisa duduk termenung di dalam mobil
meratapi nasibnya. Tiba-tiba.... sekilas terlihat melalui kaca spion,
sorotan lampu mobil mendekat dan berhenti di belakang mobil si
pemuda. Diselimuti perasaan takut tetapi lebih pada rasa gembira, si
pemuda melihat pengendara mobil turun mendatangi jendela mobilnya.
Karena cuaca sangat gelap, hampir-hampir wajah si pengendara tidak
terlihat dengan jelas. "Mesin mobil saya mati!" serunya sambil
menurunkan kaca jendela mobil. Kemudian orang yang tidak dikenal itu
melangkah ke depan mobil dan membuka tutup mesin, mengulurkan
tangannya dan entah apa yang dilakukan, tidak lama kemudian dia
memberi isyarat agar memutar kunci kontak. Alangkah terkejut dan
mengherankan, mesin mobil hidup! Masih dengan rasa keheranan, si
pemuda berseru: "Saya tadinya kuatir, jangan-jangan mobil saya mogok
untuk terakhir kalinya". Orang tidak dikenal itupun menjawab dengan
tegas "Setiap mobil paling sedikit akan hidup sekali lagi bila diberi
perhatian yang semestinya". Tiba-tiba angin mereda, hujan berubah
rintik-rintik. Orang asing itu melanjutkankan perkataannya : " Prinsip
yang sama juga berlaku bagi manusia. Selama masih ada sedikit percikan
api, belum terlambat bagi seorang manusia untuk membuat awal yang
baru ". si pemuda tergesa-gesa mengucapkan banyak terima kasih dan
segera meneruskan sisa perjalanannya dan tiba ditempat yang dituju
dengan selamat. Memang, begitu penting sebuah percikan api untuk bisa
menghidupkan mobil, demikian pula di dalam kehidupan manusia,
percikan api bisa diartikan sebagai semangat, hasrat, niat atau tekad.
Bagi setiap manusia, siapapun dia, bagaimanapun keadaannya, selama
masih mempunyai percikan api yang berbentuk TEKAD, maka tiada
kata terlambat untuk memulai sebuah awal yang baru! Kebangkitan
baru! Dan menciptakan kesuksesan baru!
TEKAD YANG KUAT
Bagi saya sendiri yang lahir di keluarga miskin, yang hanya mengenyam
pendidikan formal kelas 6 SD pun tidak lulus, (SDTT sekolah dasar tidak
tamat), sungguh tidak mudah untuk berjuang dan keluar sebagai
pemenang! Begitu pentingnya kekuatan TEKAD atau percikan api bagi
saya! Tanpa TEKAD YANG KUAT untuk mengubah nasib dengan
berjuang mati-matian, tidak mungkin nasib bisa saya ubah dan meraih
kesuksesan seperti hari ini.. Dengan bersyukur atas keberhasilan yang
telah saya raih, saya bertekad untuk tetap belajar, berjuang! Berjuang
dan belajar lagi!! Dan membagi semangat pada setiap orang yang
membutuhkan agar bisa memiliki kekayaan mental dan sama-sama
meraih kesuksesan untuk kehidupan yang lebih bernilai.
Read rest of entry

CERITA BIJAK : WAKTU

Suatu hari di sebuah rumah sakit, tampak seorang nenek berumur sekitar
70 tahunan, tiba di rumah sakit dengan tergesa-gesa, segera dia
mendaftarkan diri di bagian administrasi rumah sakit sebagai pasien
dokter penyakit dalam , dan tidak lama kemudian… si nenek berjalan
tertatih membawa kartu pasien dan menghampiri suster yang berada di
depan ruang praktek si dokter untuk memberitahu kedatangannya dan
memberikan nomer urut antriannya. "Suster, sekarang pasien nomer
berapa? Giliran saya masih harus menunggu berapa lama untuk ketemu
dokter?" Tanya si nenek. "Tunggu saja nek, nanti dipanggil sesuai nomer
urut" jawab si suster begitu saja. Rupanya nenek adalah pasien lama di
sana sehingga tanpa banyak bertanya lagi, ia pun menempati bangku,
bersama-sama dengan pasien lain menunggu giliran di panggil. Selang
beberapa saat, sikapnya terlihat gelisah, sebentar-bentar dia melihat ke
jam dinding, mulai mondar-mandir seolah tidak sabar menanti.
Diberanikan diri menghampiri suster dan bertanya dengan was-was
karena takut si suster marah. "Masih lama ya sus?" "Ya! Tunggu saja"
jawab suster. Saat giliran nomer urutnya sudah dekat, tiba-tiba ada
panggilan darurat dari rumah sakit karena ada pasien gawat yang harus
segera ditangani sang dokter. Bergegas dokter pun pergi meninggalkan
ruang prakteknya untuk menolong pasien yang lebih membutuhkannya.
Si nenek dengan kesal kembali duduk, kemudian berdiri, lalu mulai
berjalan mondar-mandir. Kejadian itu memancing reaksi 2 remaja yang
juga sedang menunggu di situ, "Si Nenek itu kelihatan gelisah dan tidak
sabaran ya. Sudah setua itu memangnya dia punya kesibukan apa kok
menunggu aja tidak sabar begitu" Kemudian ditimpali oleh temannya,
"Iya tuh, udah berumur setua itu, ngapain sih kok maunya buru-buru.
Waktu kan masih panjang, belum juga larut malam". Dengan tidak
terduga oleh kedua remaja tadi, si nenek menghampiri mereka dan
menyapa ramah, "Anak muda, nenek mendengar apa yang kalian
bicarakan tentang nenek. Memang nenek kurang sabar menunggu disini
tanpa melakukan sesuatu. Justru karena nenek sudah berumur, nenek
tidak memiliki banyak waktu lagi untuk melakukan hal-hal yang belum
sempat nenek lakukan. Kesadaran bahwa sisa waktu nenek yang tidak
banyak inilah maka nenek tidak sabar menunggu di sini terlalu lama
tanpa bisa melakukan apapun. Tentu kalian bisa mengerti kenapa nenek
tidak sabar menunggu kan?" "Oh, iya.. iya nek. Maafkan kami nek. Kami
Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.
Disadur dari www.andriewongso.com
Disadur dari www.andriewongso.com
tidak berpikir panjang tentang waktu yang begitu berharga seperti kata
nenek. Sepantasnya kami yang muda pun harus berpikir tidak boleh
menyia-nyiakan waktu dengan tidak melakukan apa-apa seperti ini.
Terimakasih nenek telah mengingatkan kepada kami". Umur manusia
tidak ada seorangpun yang bisa mengukur secara tepat, kapan saat kita
lahir dan kapan saat kematian tiba. Jika kesadaran tentang nilai waktu,
yakni akan sisa waktu yang dimiliki dan mau memanfaatkan dengan
benar sesuai dengan peran kita saat ini, dimanapun kita berada, maka
saat itulah kehidupan se-nyatanya baru dimulai. Waktu adalah
kekayaan paling berharga yang dimiliki setiap manusia Mari kita
manfaatkan waktu dengan optimis dan diarahkan pada sasaran hidup
yang menantang, sehingga membuat hidup kita semakin hidup, penuh
gairah dan bahagia!
Read rest of entry

CERITA BIJAK : KEPITING

Saat menjelang malam hari di tepi pantai, terlihat para nelayan
melakukan kegiatan yakni menangkap kepiting yang biasanya keluar
dari sarang mereka di malam hari. Kepiting-kepiting yang ditangkap
oleh nelayan, sebagian kecil akan menjadi lauk santapan sekeluarga,
sebagian besar akan di bawa ke pengumpul atau langsung ke pasar untuk
di jual. Para nelayan itu memasukkan semua kepiting hasil tangkapan
mereka ke dalam baskom terbuka. Menariknya, baskom tersebut tidak
perlu diberi penutup untuk mencegah kepiting meloloskan diri dari situ.
Ada yang menarik dari tingkah laku kepiting-kepiting yang tertangkap
itu. Mereka sekuat tenaga selalu berusaha keluar dengan menggunakan
capit-capitnya yang kuat, tetapi jika ada seekor kepiting yang nyaris
meloloskan diri keluar dari baskom, teman-temannya pasti akan
berusaha keras menarik kembali ke dasar baskom. Begitulah seterusnya,
sehingga akhirnya tidak ada seekor kepiting pun yang berhasil kabur dari
baskom, sebab itu lah para nelayan tidak membutuhkan penutup untuk
mencegah kepiting keluar dari baskom. Dan kemudian mati hidupnya si
kepiting pun ditentukan keesokan harinya oleh si nelayan. Sungguh
menarik kisah dari sifat kepiting tadi, mengingatkan kita pada
kehidupan manusia. Kadang tanpa disadari, manusia bertingkah laku
seperti kepiting di dalam baskom. Saat ada seorang teman berhasil
mendaki ke atas atau berhasil mencapai sebuah prestasi, yang
seharusnya kita ikut berbahagia dengan keberhasilan itu, tetapi tanpa
sadar, kita justru merasa iri, dengki, marah, tidak senang, atau malahan
berusaha menarik atau menjatuhkan kembali ke bawah. Apalagi dalam
bisnis atau bidang lain yang mengandung unsur kompetisi, sifat iri, tidak
mau kalah akan semakin nyata dan bila tidak segera kita sadari, kita
telah menjadi monster, mahluk yang menakutkan yang akhirnya akan
membunuh hati nurani kita sendiri.
Gelagat manusia yang mempunyai sifat seperti halnya sifat kepiting
yaitu :
Selalu sibuk merintangi orang lain yang akan menuju sukses sehingga
lupa berusaha untuk memajukan diri sendiri. selalu mencari dan
menyalahkan pihak di luar dirinya
Tidak perlu cemas dengan keberhasilan orang lain, tidak perlu ada
menyimpan iri hati apalagi tindakan yang bermaksud menghalangi
teman atau orang lain agar mereka tidak maju. Buang pikiran negatif
seperti itu! Karena sesungguhnya, di dalam persaingan bisnis atau
persaingan di bidang apapun, tidak peduli berakhir dengan kemenangan
atau kekalahan, masing2 dari kita mempunyai hak untuk sukses! Jika
kita bisa menyadari bahwa ! Success is our right, sukses adalah hak kita
semua! Maka secara konsekwen kita bisa menghargai setiap keberhasilan
orang lain, bahkan selalu siap membantu orang lain utk mencapai
kesuksesannya. Untuk itu, dari pada mempunyai niat menghalangi atau
menjatuhkan orang lain, jauh lebih penting adalah kita siap berjuang
dan sejauh mana kita sendiri mengembangkan kemampuan dan potensi
kita seutuhnya. Sehingga hasil yang akan kita capaipun akan maksimal
dan membanggakan!
Read rest of entry

CERITA BIJAK : CINTA AYAH

Di sebuah keluarga, tinggallah seorang ayah dengan putra tunggalnya
yang sebentar lagi lulus dari perguruan tinggi. Sang ibu beberapa tahun
yang lalu telah meninggal dunia. Mereka berdua memiliki kesamaan
minat yakni mengikuti perkembangan produk otomotif. Suatu hari, saat
pameran otomotif berlangsung, mereka berdua pun ke sana. Melihat
sambil berandai-andai. Seandainya tabungan si ayah mencukupi, kirakira
mobil apa yang sesuai budget yang akan di beli. Sambil bersenda
gurau, sepertinya sungguh-sungguh akan membeli mobil impian mereka.
Menjelang hari wisuda, diam-diam si anak menyimpan harapan dalam
hati, "Mudah-mudahan ayah membelikan aku mobil, sebagai hadiah
kelulusanku. Setelah lulus, aku pasti akan memasuki dunia kerja. Dan
alangkah hebatnya bila saat mulai bekerja nanti aku bisa berkendara ke
kantor dengan mobil baru," harapnya dengan senang. Membayangkan
dirinya memakai baju rapi berdasi, mengendarai mobil ke kantor. Saat
hari wisuda tiba, ayahnya memberi hadiah bingkisan yang segera
dibukanya dengan harap-harap cemas. Ternyata isinya adalah sebuah
kitab suci di bingkai kotak kayu berukir indah. Walaupun mengucap
terima kasih tetapi hatinya sungguh kecewa. "Bukannya aku tidak
menghargai hadiah dari ayah, tetapi alangkah senangnya bila isi kotak
itu adalah kunci mobil," ucapnya dalam hati sambil menaruh kitab suci
kembali ke kotaknya. Waktu berlalu dengan cepat, si anak diterima kerja
di kota besar. Si ayah pun sendiri dalam kesepian. Karena usia tua dan
sakit-sakitan, tak lama si ayah meninggal dunia tanpa sempat
meninggalkan pesan kepada putranya. Setelah masa berkabung selesai,
saat sedang membereskan barang-barang, mata si anak terpaku melihat
kotak kayu hadiah wisudanya yang tergeletak berdebu di pojok lemari.
Dia teringat itu hadiah ayahnya saat wisuda yang diabaikannya.
Perlahan dibersihkannya kotak penutup, dan untuk pertama kalinya
kitab suci hadiah pemberian si ayah dibacanya. Saat membaca, tiba-tiba
sehelai kertas terjatuh dari selipan kitab suci. Alangkah terkejutnya dia.
Ternyata isinya selembar cek dengan nominal sebesar harga mobil yang
diinginkan dan tertera tanggalnya persis pada hari wisudanya. Sambil
berlinang airmata, dia pun tersadar. Terjawab sudah, kenapa mobil
kesayangan ayahnya dijual. Ternyata untuk menggenapi harga mobil
yang hendak dihadiahkan kepadanya di hari wisuda. Segera ia pun
bersimpuh dengan memanjatkan doa, "Ayah maafkan anakmu yang
tidak menghargai hadiahmu …. Walau terlambat, hadiah Ayah telah
kuterima…… Terima kasih Ayah.. Semoga Ayah berbahagia di sisiNYA,
amin". Tidak jarang para orang tua memberi perhatian dengan alasan
dan caranya masing-masing. Tetapi dalam kenyataan hidup, karena
kemudaan usia anak dan emosi yang belum dewasa, seringkali terjadi
kesalahfahaman pada anak dalam menerjemahkan perhatian orang tua.
Jangan cepat menghakimi sekiranya harapan tidak sesuai dengan
kenyataan. Sebaliknya tidak menjadikan kita manja hingga selalu
menuntut permintaan.

ORANG OPTIMIS BUKANLAH ORANG YANG KARENA
MELIHAT JALAN MULUS DI HADAPANNYA, TETAPI ORANG
YANG YAKIN 100% DAN BERANI UNTUK MENGATASI SETIAP
TANTANGAN YANG MENGHADANG.

Ada 2 macam manusia dalam menyikapi hidup ini, satu sikap orang yang
pesimis dan ke-dua adalah orang yang bersikap optimis, Tipe pertama
orang pesimis, bagi orang pesimis kehidupannya lebih banyak dikuasai
oleh pikiran yang negatif, hidup penuh kebimbangan dan keraguan,
tidak yakin pada kemampuan diri sendiri, kepercayaan dirinya mudah
goyah dan mudah putus asa kalau menemui kesulitan atau kegagalan,
selalu mencari alasan dengan menyalahkan keadaan dan orang lain
sebagai proteksi untuk membenarkan dirinya sendiri, padahal di dalam
dirinya dia tahu bahwa betapa rapuh mentalnya, orang pesimis lebih
percaya bahwa sukses hanyalah karena kebetulan, keberuntungan atau
nasib semata. Tentu orang dengan sikap mental pesimis seperti ini, dia
telah mengidap penyakit miskin mental, jika mental kita sudah miskin,
maka tidak akan mampu menciptakan prestasi yang maksimal dan mana
mungkin nasib jelek bisa dirubah menjadi lebih baik. Tipe ke 2 adalah
orang optimis, bagi orang yang memiliki sikap optimis, kehidupannya
didominasi oleh pikirannya yang positif, berani mengambil resiko, setiap
mengambil keputusan penuh dengan keyakinan dan kepercayaan diri
yang mantap. orang optimis bukanlah karena melihat jalan mulus di
hadapannya, tetapi orang yang mempunyai keyakinan 100% dalam
melaksanakan apa yang harus diperjuangkan, orang optimis tahu dan
sadar bahwa dalam setiap proses perjuangannya pasti akan menghadapi
krikiil -krikil kecil ataupun bebatuan besar yang selalu menghadang!
Orang optimis siap dan berani untuk mengatasi masalah atau kesulitan
yang merintanginya, Bahkan disaat mengalami kegagalan sekalipun
tidak akan membuat dia patah semangat, karena dia tau ada proses
pembelajaran disetiap kegagalan yang dia alami . Tentu orang yang
punya sikap mental optimis demikian adalah orang yang memiliki
kekayaan mental. dan Hanya orang yang mempunyai kekayaan mental,
yang mampu mengubah nasib jelek menjadi lebih baik. Jika anda, saya
dan kita semua secara bersama-sama mampu membangun kekayaan
mental dengan berkesinambungan, mampu menjalani hidup ini dengan
optimis dan aktif, tentu secara langsung akan berpengaruh pada
kehidupan kita pribadi serta kehidupan keluarga, dan dari kehidupan
keluarga -keluarga yang semangat, optimis dan aktif akan
mempengaruhi kehidupan masyarakat secara luas, yang pada akhirnya
akan menjadi kekuatan sinergi sebagai kontributor dalam membangun
Indonesia sekaligus mengembalikan jati diri bangsa! Kalau bukan kita
yang membangun Indonesia, lalu siapa?
Read rest of entry

CERITA BIJAK : KEDATANGAN KEMATIAN

Pada suatu pagi buta, seorang pemuda mendatangi rumah gurunya yang
dikenal bijak di desa itu. Dia mengetuk pintu rumah dengan keras,
sambil suaranya terdengar memanggil-manggil gurunya. Si guru sambil
mengusap matanya dan menahan kuap membuka pintu sambil berkata,
"Ada apa anakku? Pagi-pagi begini mengganggu nyenyak tidurku. Ada
sesuatu yang penting?" Pemuda menjawab, "Ampun guru, maafkan saya
terpaksa mengganggu tidur guru. Ada sesuatu yang ingin saya
tanyakan." Si guru kemudian mempersilahkannya masuk ke dalam
rumah dan pemuda itu pun segera menceritakan kegundahannya, yakni
semalam dia bermimpi dijemput malaikat dan diajak pergi meninggalkan
dunia ini. Dia ingin menolak tetapi sesuatu seperti memaksanya harus
pergi. Saat tarik menarik itulah dia terbangun sambil berkeringat dan
tidak dapat tidur lagi. Timbul perasaan takut dan tidak berdaya
membayangkan bila malaikat benar-benar datang kepadanya. Si pemuda
kemudian bertanya kepada gurunya, "Guru, kapan kematian akan
datang kepada manusia?" Gurunya menjawab, "Saya tidak tahu anakku.
Kematian adalah rahasia Tuhan". "Aaaakh, guru pasti tahu. Guru kan
selalu menjadi tempat bertanya bagi semua orang di daerah sini,” desak
si murid. "Baiklah. Sebenarnya rata-rata manusia meninggal pada usia
70 sampai 75 tahun. Tetapi sebagian ada yang tidak mencapai atau lebih
dari perkiraan tersebut." Merasa tidak puas dia kembali bertanya, "Jadi,
umur berapakah manusia pantas untuk mati?" Sambil pandangannya
menerawang keluar jendela, sang guru menjawab, "Sesungguhnya, begitu
manusia dilahirkan, proses penuaan langsung terjadi. Sejak saat itu,
manusia semakin tua dan kapan pun bisa mengalami kematian". Si
murid bertanya terus, "Lalu, bagaimana sebaiknya saya menjalani hidup
ini?" ”Hidup sesungguhnya adalah saat ini, bukan besok atau kemarin.
Hargai hidup yang singkat ini, jangan sia siakan waktu. Bekerjalah
secara jujur dan bertanggung jawab, usahakan berbuat baik pada setiap
kesempatan. Jangan takut mati, nikmati kehidupanmu! Mengerti?”
Dengan wajah gembira si murid berkata, "Terima kasih guru, saya
mengerti. Saya akan belajar dan bekerja dengan sungguh-sungguh,
berani menghadapi hidup ini, sekaligus menikmatinya. Saya pamit
guru." Hiduplah saat ini, tidak usah menyesali hari kemarin, karena hari
kemarin sudah berlalu, tidak usah cemas akan hari esok, karena hari esok
belum datang, Hanya hari ini yang menjanjikan kesuksesan , kebahagian
bagi setiap orang yang mau dan mampu mengaktualisasikan dirinya
dengan penuh totalitas!
Sekali lagi,
Read rest of entry

CERITA BIJAK : NELAYAN

Suatu hari, seorang pedagang kaya datang berlibur ke sebuah pulau yang
masih asri. Saat merasa bosan, dia berjalan-jalan keluar dari villa tempat
dia menginap dan menyusuri tepian pantai. Terlihat Di sebuah dinding
karang seseorang sedang memancing, dia menghampiri sambil menyapa,
"Sedang memancing ya pak?", sambil menoleh si nelayan menjawab,
"Benar tuan. Mancing satu-dua ikan untuk makan malam keluarga
kami". "Kenapa cuma satu-dua ikan pak? Kan banyak ikan di laut ini,
kalau bapak mau sedikit lebih lama duduk disini, tiga-empat ekor ikan
pasti dapat kan?" Kata si pedagang yang menilai si nelayan sebagai
orang malas. "Apa gunanya buat saya ?" tanya si nelayan keheranan.
"Satu-dua ekor disantap keluarga bapak, sisanya kan bisa dijual. Hasil
penjualan ikan bisa ditabung untuk membeli alat pancing lagi sehingga
hasil pancingan bapak bisa lebih banyak lagi" katanya menggurui. "Apa
gunanya bagi saya?" tanya si nelayan semakin keheranan. "Begini.
Dengan uang tabungan yang lebih banyak, bapak bisa membeli jala. Bila
hasil tangkapan ikan semakin banyak, uang yang dihasilkan juga lebih
banyak, bapak bisa saja membeli sebuah perahu. Dari satu perahu bisa
bertambah menjadi armada penangkapan ikan. Bapak bisa memiliki
perusahaan sendiri. Suatu hari bapak akan menjadi seorang nelayan
yang kaya raya". Nelayan yang sederhana itu memandang si turis
dengan penuh tanda tanya dan kebingungan. Dia berpikir, laut dan
tanah telah menyediakan banyak makanan bagi dia dan keluarganya,
mengapa harus dihabiskan untuk mendapatkan uang? Mengapa dia ingin
merampas kekayaan alam sebanyak-banyaknya untuk dijual kembali.
Sungguh tidak masuk diakal ide yang ditawarkan kepadanya.
Sebaliknya, merasa hebat dengan ide bisnisnya si pedagang kembali
meyakinkan, "Kalau bapak mengikuti saran saya, bapak akan menjadi
kaya dan bisa memiliki apa pun yang bapak mau". "Apa yang bisa saya
lakukan bila saya memiliki banyak uang?" tanya si nelayan. "Bapak bisa
melakukan hal yg sama seperti saya lakukan, setiap tahun bisa berlibur,
mengunjungi pulau seperti ini, duduk di dinding pantai sambil
memancing". "Lho, bukankan hal itu yang setiap hari saya lakukan tuan,
kenapa harus menunggu berlibur baru memancing?", kata si nelayan
menggeleng-gelengkan kepalanya semakin heran. Mendengar jawaban si
nelayan, si pedagang seperti tersentak kesadarannya bahwa untuk
menikmati memancing ternyata tidak harus menunggu kaya raya.
Pepatah mengatakan, jangan mengukur baju dengan badan orang lain.
Si pedagang mungkin benar melalui analisa bisnisnya, dia merasa apa
yang dilakukan oleh si nelayan terlalu sederhana, monoton dan tidak
bermanfaat. Mengeruk kekayaan alam demi mendapatkan uang dan
kekayaan sebanyak-banyaknya adalah wajar baginya. Sedangkan bagi si
nelayan, dengan pikiran yang sederhana, mampu menerima apapun yang
diberikan oleh alam dengan puas dan ikhlas. Sehingga hidup dijalani
setiap hari dengan rasa syukur dan berbahagia. Memang ukuran
"bahagia", masing-masing orang pastilah tidak sama. Semua kembali
kepada keikhlasan dan cara kita mensyukuri, apapun yang kita miliki
saat ini.
Read rest of entry

CERITA BIJAK : BATU RUBBY

Alkisah, di sebuah kerajaan, raja memiliki sebuah batu ruby yang sangat
indah. Raja sangat menyayangi, mengaguminya dan berpuas hati karena
merasa memiliki sesuatu yang indah dan berharga. Saat permaisuri akan
melangsungkan ulang tahunnya, raja ingin memberikan hadiah batu
ruby itu kepada istri tercintanya. Tetapi saat batu itu dikeluarkan dari
tempat penyimpanan, terjadi kecelakaan sehingga batu itu terjatuh dan
tergores retak cukup dalam. Raja sangat kecewa dan bersedih.
Dipanggillah para ahli batu-batu berharga untuk memperbaiki
kerusakan tersebut. Beberapa ahli permata telah datang ke kerajaan,
tetapi mereka menyatakan tidak sanggup memperbaiki batu berharga
tersebut. “Mohon ampun Baginda. Goresan retak di batu ini tidak
mungkin bisa diperbaiki. Kami tidak sanggup mengembalikannya seperti
keadaan semula.” Kemudian sang baginda memutuskan mengadakan
sayembara, mengundang seluruh ahli permata di negeri itu yang
mungkin waktu itu terlewatkan. Tidak lama kemudian datanglah ke
istana seorang setengah tua berbadan bongkok dan berbaju lusuh,
mengaku sebagai ahli permata. Melihat penampilannya yang tidak
meyakinkan, para prajurit menertawakan dia dan berusaha
mengusirnya. Mendengar keributan, sang raja memerintahkan untuk
menghadap. “Ampun Baginda. Mendengar kesedihan Baginda karena
kerusakan batu ruby kesayangan Baginda, perkenankanlah hamba untuk
melihat dan mencoba memperbaikinya.” “Baiklah, niat baikmu aku
kabulkan,” kata baginda sambil memberikan batu tersebut. Setelah
melihat dengan seksama, sambil menghela napas, si tamu berkata, “Saya
tidak bisa mengembalikan batu ini seperti keadaan semula, tetapi bila
diperkenankan, saya akan membuat batu ruby retak ini menjadi lebih
indah.” Walaupun sang raja meragukan, tetapi karena putus asa tidak
ada yang bisa dilakukan lagi dengan batu ruby itu, raja akhirnya setuju.
Maka, ahli permata itupun mulai memotong dan menggosok. Beberapa
hari kemudian, dia menghadap raja. Dan ternyata batu permata ruby
yang retak telah dia pahat menjadi bunga mawar yang sangat indah.
Baginda sangat gembira, “Terima kasih rakyatku. Bunga mawar adalah
bunga kesukaan permaisuri, sungguh cocok sebagai hadiah.” Si ahli
permata pun pulang dengan gembira. Bukan karena besarnya hadiah
yang dia terima, tetapi lebih dari itu. Karena dia telah membuat raja
yang dicintainya berbahagia. Di tangan seorang yang ahli, benda cacat
bisa diubah menjadi lebih indah dengan cara menambah nilai lebih yang
diciptakannya. Apalagi mengerjakannya dengan penuh ketulusan dan
perasaan cinta untuk membahagiakan orang lain. Saya kira demikian
pula bagi manusia, tidak ada yang sempurna, selalu ada kelemahan besar
ataupun kecil. Tetapi jika kita memiliki kesadaran dan tekad untuk
mengubahnya, maka kita bisa mengurangi kelemahan-kelemahan yang
ada sekaligus mengembangkan kelebihan-kelebihan yang kita miliki
sehingga keahlian dan karakter positif akan terbangun. Dengan
terciptanya perubahan-perubahan positif tentu itu merupakan kekuatan
pendorong yang akan membawa kita pada kehidupan yang lebih sukses
dan bernilai!
Read rest of entry

CERITA BIJAK : PEDAGANG

Dikisahkan, ada seorang pedagang yang kaya raya dan berpengaruh di
kalangan masyarakat. Kegiatannya berdagang mengharuskan dia sering
keluar kota. Suatu saat, karena pergaulan yang salah, dia mulai berjudi
dan bertaruh. Mula-mula kecil-kecilan, tetapi karena tidak dapat
menahan nafsu untuk menang dan mengembalikan kekalahannya, si
pedagang semakin gelap mata, dan akhirnya uang hasil jerih payahnya
selama ini banyak terkuras di meja judi. Istri dan anak-anaknya
terlantar dan mereka jatuh miskin. Orang luar tidak ada yang tahu
tentang kebiasaannya berjudi, maka untuk menutupi hal tersebut, dia
mulai menyebar fitnah, bahwa kebangkrutannya karena orang
kepercayaan, sahabatnya, mengkhianati dia dan menggelapkan banyak
uangnya. Kabar itu semakin hari semakin menyebar, sehingga sahabat
yang setia itu, jatuh sakit. Mereka sekeluarga sangat menderita, disorot
dengan pandangan curiga oleh masyarakat disekitarnya dan dikucilkan
dari pergaulan. Si pedagang tidak pernah mengira, dampak
perbuatannya demikian buruk. Dia bergegas datang menengok sekaligus
memohon maaf kepada si sahabat "Sobat. Aku mengaku salah! Tidak
seharusnya aku menimpakan perbuatan burukku dengan menyebar
fitnah kepadamu. Sungguh, aku menyesal dan minta maaf. Apakah ada
yang bisa aku kerjakan untuk menebus kesalahan yang telah
kuperbuat?" Dengan kondisi yang semakin lemah, si sahabat berkata,
"Ada dua permintaanku. Pertama, tolong ambillah bantal dan bawalah
ke atap rumah. Sesampainya di sana, ambillah kapas dari dalam bantal
dan sebarkan keluar sedikit demi sedikit ". Walaupun tidak mengerti apa
arti permintaan yang aneh itu, demi menebus dosa, segera dilaksanakan
permintaan tersebut. Setelah kapas habis di sebar, dia kembali menemui
laki-laki yang sekarat itu. "Permintaanmu telah aku lakukan, apa
permintaanmu yang kedua?" "Sekarang, kumpulkan kapas-kapas yang
telah kau sebarkan tadi", kata si sahabat dengan suara yang semakin
lemah. Si pedagang terdiam sejenak dan menjawab dengan sedih, "Maaf
sobat, aku tidak sanggup mengabulkan permintaanmu ini. Kapas-kapas
telah menyebar kemana-mana, tidak mungkin bisa dikumpulkan lagi".
"Begitu juga dengan berita bohong yang telah kau sebarkan, berita itu
takkan berakhir hanya dengan permintaan maaf dan penyesalanmu saja"
kata si sakit "Aku tahu. Engkau sungguh sahabat sejatiku. Walaupun
aku telah berbuat salah yang begitu besar tetapi engkau tetap mau
memberi pelajaran yang sangat berharga bagi diriku. Aku bersumpah,
akan berusaha semampuku untuk memperbaiki kerusakan yang telah
kuperbuat, sekali lagi maafkan aku dan terima kasih sobat". Dengan
suara terbata-bata dan berlinang air mata, dipeluklah sahabatnya.
Seperti kata pepatah mengatakan, fitnah lebih kejam daripada
pembunuhan. Kebohongan tidak berakhir dengan penyesalan dan
permintaan maaf. Seringkali sulit bagi kita untuk menerima kesalahan
yang telah kita perbuat. Bila mungkin, orang lainlah yang menanggung
akibat kesalahan kita. Kalau memang itu yang akan terjadi , lalu untuk
apa melakukan fitnah yang hanya membuat orang lain
menderita.tentu… Jauh lebih nikmat bisa melakukan sesuatu yang
membuat orang lain berbahagia.
Read rest of entry

CERITA BIJAK : PENEBANG POHON

Alkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja
untuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan
kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon
penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin. Saat
mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan
area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah
ditentukan kepada si penebang pohon. Hari pertama bekerja, dia berhasil
merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si
penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus,
“Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan
kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang
sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu”. Sangat termotivasi
oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras
lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga,
dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan
bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit
pohon yang berhasil dirobohkan. “Sepertinya aku telah kehilangan
kemampuan dan kekuatanku, bagaimana aku dapat
mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikan?” pikir
penebang pohon merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk
dia menghadap ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang
kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.
Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, “Kapan terakhir
kamu mengasah kapak?” “Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu
untuk itu, saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi
hingga sore dengan sekuat tenaga”. Kata si penebang. “Nah, disinilah
masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan
terasah, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil luar biasa. Harihari
berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang
sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun.
Maka, sesibuk apapun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah
kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil
yang maksimal. Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera
kembali bekerja!” perintah sang majikan. Sambil mengangguk-anggukan
kepala dan mengucap terimakasih, si penebang berlalu dari hadapan
majikannya untuk mulai mengasah kapak. Istirahat bukan berarti
berhenti , Tetapi untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi Sama
seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam
hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk dan sibuk,
sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu
istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah
pengetahuan, wawasan dan spiritual. Jika kita mampu mengatur ritme
kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan menjadi dinamis,
berwawasan dan selalu baru !
Read rest of entry

CERITA BIJAK : SUNGAI

Suatu hari di dalam kelas sebuah sekolah, di tengah-tengah pelajaran,
pak guru memberi sebuah pertanyaan kepada murid-muridnya : Anakanak,
jika suatu hari kita berjalan-jalan di suatu tempat, di depan kita
terbentang sebuah sungai kecil, walaupun tidak telalu lebar tetapi airnya
sangat keruh sehingga tidak diketahui berapa dalam sungai tersebut.
Sedangkan satu-satunya jembatan yang ada untuk menyeberangi sungai,
tampak di kejauhan berjarak kira-kira setengah kilometer dari tempat
kita berdiri. Pertanyaan saya adalah, apa yang akan kalian perbuat
untuk menyeberangi sungai tersebut dengan cepat dan selamat? Pikirkan
baik-baik, jangan sembarangan menjawab. Jawablah dengan memberi
alasan kenapa kalian memilih jalan itu. Tuliskan jawaban kalian di
selembar kertas. Kita akan diskusikan setelah ini. Seisi kelas segera
ramai, masing-masing anak memberi jawaban yang beragam. Setelah
beberapa saat menunggu murid-murid menjawab di kertas, pak guru
segera mengumpulkan kertas dan mulailah acara diskusi. Ada
sekelompok anak pemberani yang menjawab: kumpulkan tenaga dan
keberanian, ambil ancang-ancang dan lompat ke seberang sungai. Ada
yang menjawab, kami akan langsung terjun ke sungai dan berenang
sampai ke seberang. Kelompok yang lain menjawab : Kami akan mencari
sebatang tongkat panjang untuk membantu menyeberang dengan tenaga
lontaran dari tongkat tersebut. Dan ada pula yang menjawab : Saya
akan berlari secepatnya ke jembatan dan menyeberangi sungai,
walaupun agak lama karena jarak yang cukup jauh, tetapi lari dan
menyeberang melalui jembatan adalah yang paling aman. Setelah
mendengar semua jawaban anak-anak, pak guru berkata, ”Bagus sekali
jawaban kalian. Yang menjawab melompat ke seberang, berarti kalian
mempunyai semangat berani mencoba. Yang menjawab turun ke air
berarti kalian mengutamakan praktek. Yang memakai tongkat berarti
kalian pintar memakai unsur dari luar untuk sampai ke tujuan.
Sedangkan yang berlari ke jembatan untuk menyeberang berarti kalian
lebih mengutamakan keamanan. Bapak senang kalian memiliki alasan
atas jawaban itu. Semua jalan yang kalian tempuh adalah positif dan
baik selama kalian tahu tujuan yang hendak dicapai. Asalkan kalian mau
berusaha dengan keras, tahu target yang hendak dicapai, tidak akan lari
gunung di kejar, pasti tujuan kalian akan tercapai. Pesan bapak, mulai
dari sekarang dan sampai kapanpun, Kalian harus lebih rajin belajar dan
berusaha menghadapi setiap masalah yang muncul agar berhasil sampai
ke tempat tujuan”. Dalam kenyataan hidup, kita semua sebagai manusia
selalu mempunyai masalah atau problem yang harus di hadapi, selama
kita tidak melarikan diri dari masalah, dan sadar bahwa semua masalah
dan rintangan itu harus diatasi, melalui pola pikir dan cara2 yang positif
serta keberanian kita menghadapi semua itu, tentu hasilnya akan
maksimal. Hanya dengan action dan belajar, belajar dan action lagi.
Manusia baru bisa mencapai pertumbuhan mental yang sehat dan meraih
kesuksesan seperti yang di idam idamkan!
Read rest of entry

CERITA BIJAK : PERSATUAN

Alkisah, di sebuah kerajaan yang subur makmur, raja dicintai rakyatnya
karena memerintah dengan bijaksana, sehingga rakyat hidup aman dan
sejahtera. Raja banyak mempunyai putra dan putri, namun sayang,
sejak kecil mereka tidak pernah akur. Dari bertengkar mulut hingga
beradu fisik sering terjadi di antara mereka. Raja sangat gelisah dan
tidak tenang memikirkan ketidakakuran anak-anaknya. Bila terceraiberai
karena tidak akur bagaimana jika harus bertempur melawan
musuh, begitu pikir sang raja. Berbagai upaya telah dilakukan untuk
memberi pengertian kepada anak-anaknya agar jangan hanya
memikirkan diri sendiri. Raja sangat menginginkan mereka akur
sehingga bisa bahu-membahu jika menghadapi serangan dari luar, serta
agar bisa memberi contoh rakyatnya hidup rukun di negeri sendiri. Suatu
hari, saat berkumpul di meja makan, sebelum acara makan dimulai, raja
memerintahkan kepada mereka: ”Anakku, ambillah sebatang sumpit di
depan kalian dan coba patahkan.” Walaupun heran dengan perintah
sang ayah, mereka segera mematuhinya dan mematahkan sumpit itu
dengan mudah. Kemudian, raja meminta sumpit tambahan kepada
pelayan. ”Sekarang, patahkan sepasang sumpit di depan kalian itu.”
Kembali mereka dengan senang hati memamerkan kekuatan fisik
masing-masing dan segera patahlah sepasang sumpit tersebut. Raja
kemudian kembali meminta sumpit tambahan dan memerintahkan anakanaknya
mematahkan sumpit yang kali ini ada tiga batang. Dengan
susah payah, ada yang berhasil mematahkan, namun ada juga yang
akhirnya menyerah. Salah seorang dari mereka lantas bertanya: ”Ayah,
mengapa kami harus mematahkan sumpit-sumpit ini dari satu batang
hingga tiga batang. Untuk apa semua ini?” ”Pertanyaan bagus anakku.
Sumpit-sumpit adalah sebuah perlambang kekuatan. Jika satu batang
mudah dipatahkan, maka jika beberapa batang sumpit disatukan, tidak
akan mudah untuk dipatahkan. Sama seperti kalian. Bila mau bersatu,
maka tidak akan ada pihak luar atau musuh yang akan mengalahkan
kita. Tapi bila kekuatan kita tercerai berai, maka musuh akan mudah
mengalahkan kita. Ayah ingin kalian bersatu, bersama-sama
membangun negara dan rakyat negeri ini. Jika kita mampu menjaga
kekompakan dan memberi contoh kepada seluruh rakyat negri ini, maka
kerajaan kita pasti akan tetap sejahtera dan semakin makmur,”jelas sang
raja. ”Anak-anakku, usia ayah sudah lanjut. Kini saatnya ayah titipkan
kerajaan ini ke tangan kalian semua. Ayah percaya kalian akan mampu
menyelesaikan masalah di negeri ini bila kalian bersatu.” Untuk
membangun komunitas baik keluarga, perusahaan, pemerintah, ataupun
komunitas-komunitas lainnya, mutlak diperlukan semangat
kekompakan, kebersamaan, dan persatuan. Seperti sebuah pepatah
tiongkok kuno yang mengatakan,”Bersatu adalah kekuatan". Tanpa
kekompakan akan mudah retak rapuh dan tercerai berai.” Adanya
persatuan yang dibangun berlandaskan pengertian dan kepercayaan
antarpribadi, akan memunculkan kekuatan sinergi yang solid dan
mantap. Dengan modal tersebut, sebuah komunitas akan bisa
berkembang menuju keberhasilan yang mengagumkan
Read rest of entry

CERITA BIJAK : KEHIDUPAN

Seorang eksekutif muda sedang beristirahat siang di sebuah kafe terbuka.
Sambil sibuk mengetik di laptopnya, saat itu seorang gadis kecil yang
membawa beberapa tangkai bunga menghampirinya. ”Om beli bunga
Om.” ”Tidak Dik, saya tidak butuh,” ujar eksekutif muda itu tetap sibuk
dengan laptopnya. ”Satu saja Om, kan bunganya bisa untuk kekasih
atau istri Om,” rayu si gadis kecil. Setengah kesal dengan nada tinggi
karena merasa terganggu keasikannya si pemuda berkata, ”Adik kecil
tidak melihat Om sedang sibuk? Kapan-kapan ya kalo Om butuh Om
akan beli bunga dari kamu.” Mendengar ucapan si pemuda, gadis kecil
itu pun kemudian beralih ke orang-orang yang lalu lalang di sekitar kafe
itu. Setelah menyelesaikan istirahat siangnya, si pemuda segera beranjak
dari kafe itu. Saat berjalan keluar ia berjumpa lagi dengan si gadis kecil
penjual bunga yang kembali mendekatinya. ”Sudah selesai kerja Om,
sekarang beli bunga ini dong Om, murah kok satu tangkai saja.”
Bercampur antara jengkel dan kasihan si pemuda mengeluarkan
sejumlah uang dari sakunya. ”Ini uang 2000 rupiah buat kamu. Om tidak
mau bunganya, anggap saja ini sedekah untuk kamu,” ujar si pemuda
sambil mengangsurkan uangnya kepada si gadis kecil. Uang itu
diambilnya, tetapi bukan untuk disimpan, melainkan ia berikan kepada
pengemis tua yang kebetulan lewat di sekitar sana. Pemuda itu
keheranan dan sedikit tersinggung. ”Kenapa uang tadi tidak kamu ambil,
malah kamu berikan kepada pengemis?” Dengan keluguannya si gadis
kecil menjawab, ”Maaf Om, saya sudah berjanji dengan ibu saya bahwa
saya harus menjual bunga-bunga ini dan bukan mendapatkan uang dari
meminta-minta. Ibu saya selalu berpesan walaupun tidak punya uang
kita tidak bolah menjadi pengemis.” Pemuda itu tertegun, betapa ia
mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari seorang anak kecil
bahwa kerja adalah sebuah kehormatan, meski hasil tidak seberapa
tetapi keringat yang menetes dari hasil kerja keras adalah sebuah
kebanggaan. Si pemuda itu pun akhirnya mengeluarkan dompetnya dan
membeli semua bunga-bunga itu, bukan karena kasihan, tapi karena
semangat kerja dan keyakinan si anak kecil yang memberinya pelajaran
berharga hari itu. Tidak jarang kita menghargai pekerjaan sebatas pada
uang atau upah yang diterima. Kerja akan bernilai lebih jika itu menjadi
kebanggaan bagi kita. Sekecil apapun peran dalam sebuah pekerjaan,
jika kita kerjakan dengan sungguh-sungguh akan memberi nilai kepada
manusia itu sendiri. Dengan begitu, setiap tetes keringat yang mengucur
akan menjadi sebuah kehormatan yang pantas kita perjuangan.
Read rest of entry

CERITA BIJAK : SUKSES

Di sebuah sekolah, seorang guru mendapat pertanyaan dari salah seorang
muridnya yang paling kritis. “Guru, apakah kami semua nanti bisa
sukses?” Sang guru tersenyum mendengar pertanyaan itu. Tak lama, ia
mengeluarkan uang senilai seratus ribu dari kantongnya. “Hayoo, siapa
yang mau uang ini?” Semua anak berebutan mengacungkan tangannya.
Uang senilai itu bagi mereka sangat besar. Tiba-tiba, sang guru melipatlipat
dan meremas uang itu hingga kucel dan tidak karuan bentuknya. Ia
pun berujar lagi, ”Hayoo, siapa yang mau uang ini?” Walaupun merasa
heran dengan kelakuan gurunya, murid-murid tidak peduli, mereka
kembali mengacungkan jarinya, sambil berteriak ”Saya..saya..saya..”
Semua serempak mengajukan diri untuk mendapatkan uang itu. Melihat
antusiasme muridnya, sang guru kemudian menjatuhkan uang tersebut
ke lantai dan menginjak-injak uang itu hingga kecil, tidak karuan dan
kotor. Mendapati gurunya melakukan hal itu pada uang tersebut,
sebagian murid melongo. Mereka tak tahu apa maksudnya sang guru
menginjak-injak uang yang nilainya sangat besar bagi mereka itu. Guru
pun kembali bertanya, ”Hayoo, siapa yang masih menginginkan uang
ini?” Ternyata, meski uang itu menjadi jelek, kumal dan bahkan
bercampur sedikit lumpur yang berasal dari injakan sepatu guru, masih
banyak murid yang antusias mendapatkan uang tersebut. ”Aku
guru..aku..” ”Kalian tetap saja mau dengan uang ini? Kalian tidak
melihat betapa uang ini sangat kucel, jelek, kumal dan bau?” ”Jelek itu
kan hanya bentuknya saja guru. Tetapi saja uang itu nilainya seratus
ribu,” jawab murid-murid yang tetap antusias meminta gurunya
memberikan uang itu. Sang guru pun kemudian berujar, ”Kalian benar.
Meskipun sudah tidak karuan bentuknya, uang itu tetap berharga dan
kalian tetap ingin memilikinya. Nah, jika tadi ada pertanyaan, apakah
semua bisa sukses? Jawabannya sama seperti nilai uang ini. Dalam proses
menuju ke arah kesuksesan, kalian pasti akan mengalami berbagai ujian
dan cobaan, mungkin mengalami jatuh, diinjak, dan dilecehkan.
Walaupun begitu, nilai diri kalian tidak akan berubah. Semua tergantung
kalian sendiri, bisa menjaga nilai yang ada dalam diri kalian atau tidak.
Jika kalian mampu menghargai diri sendiri dan menentukan nilai diri,
dengan keyakinan, kerja keras dan semangat pantang menyerah, maka
sukses pasti kalian dapatkan.” Tak peduli berbagai ujian, cobaan,
halangan, dan tantangan yang menghadang, jika kita punya satu nilai
dalam keyakinan dalam diri, bahwa sukses adalah hak saya, maka jalan
kesuksesan pasti akan selalu terbuka. Karena itu, seberat apapun
perjuangan yang kita lakukan, seganas apapun padang gurun yang kita
harus lewati, setinggi apapun gunung yang akan kita daki, seluas apapun
samudra yang kita seberangi, tetaplah pelihara semangat ”Success is my
right!” Tanamkan dalam diri, dan teruslah bekerja keras untuk
mewujudkan semua mimpi. Harta tak ternilai itu ada dalam diri Anda.
Perjuangkan!!!
Read rest of entry

CERITA BIJAK : SALAH PERSEPSI

Dikisahkan, di sebuah dusun tinggallah keluarga petani yang memiliki
seorang anak masih bayi. Keluarga itu memelihara seekor anjing yang
dipelihara sejak masih kecil. Anjing itu pandai, setia, dan rajin
membantu si petani. Dia bisa menjaga rumah bila majikannya pergi,
mengusir burung-burung di sawah dan menangkap tikus yang
berkeliaran di sekitar rumah mereka. Si petani dan istrinya sangat
menyayangi anjing tersebut. Suatu hari, si petani harus menjual hasil
panennya ke kota. Karena beban berat yang harus di bawanya, dia
meminta istrinya ikut serta untuk membantu, agar secepatnya
menyelesaikan penjualan dan sesegera mungkin pulang ke rumah. Si bayi
di tinggal tertidur lelap di ayunan dan dipercayakan di bawah penjagaan
anjing mereka. Menjelang malam setiba di dekat rumah, si anjing berlari
menyongsong kedatangan majikannya dengan menyalak keras berulang-
ulang, melompat-lompat dan berputar-putar, tidak seperti biasanya.
Suami istri itu pun heran dan merasa tidak tenang menyaksikan ulah si
anjing yang tidak biasa. Dan Betapa kagetnya mereka, setelah berhasil
menenangkan anjingnya…astaga, ternyata moncong si anjing
berlumuran darah segar. “Lihat pak! Moncong anjing kita berlumuran
darah! Pasti telah terjadi sesuatu pada anak kita!” teriak si ibu histeris,
ketakutan, dan mulai terisak menangis. “Ha…benar! Kurang ajar kau
anjing! Kau apakan anakku? Pasti telah kau makan!” si petani ikut
berteriak panik. Dengan penuh kemarahan, si petani spontan meraih
sebuah kayu dan secepat kilat memukuli si anjing itu dan mengenai
bagian kepalanya. Anjing itu terdiam sejenak. Tak lama dia menggelepar
kesakitan, memekik perlahan dan dari matanya tampak tetesan airmata,
sebelum kemudian ia terdiam untuk selamanya. Bergegas kedua suami
istri itu pun berlari masuk ke dalam rumah. Begitu tiba di kamar,
tampak anak mereka masih tertidur lelap di ayunan dengan damai.
Sedangkan di bawah ayunan tergeletak bangkai seekor ular besar dengan
darah berceceran bekas gigitan. Mereka pun segera sadar bahwa darah
yang menempel di moncong anjing tadi adalah darah ular yang hendak
memangsa anak mereka. Perasaan sesal segera mendera. Kesalahan fatal
telah mereka lakukan. Emosi kemarahan yang tidak terkendali telah
membunuh anjing setia yg mereka sayangi. Tentu, penyesalan mereka
tidak akan membuat anjing kesayangan itu hidup kembali. Sungguh
mengenaskan. Gara-gara emosi dan kemarahan yang membabi buta dari
ulah manusia, seekor anjing setia yang telah membantu dan membela
majikannya, harus mati secara tragis. Saya rasa demikian pula di
kehidupan ini. Begitu banyak permasalahan, pertikaian, perselisihan
bahkan peperangan, muncul dari emosi yang tidak terkontrol. Karena
itu, saya sangat setuju dengan kata-kata: ”Jangan mengambil keputusan
apapun disaat emosi sedang melanda.” Sebab, bila itu yang dilakukan,
bisa fatal akibatnya. Sungguh, kita butuh belajar dan melatih diri agar
disaat emosi, kita mampu mengendalikan diri secara sabar dan bijak.
Read rest of entry

CERITA BIJAK : PEMATUNG

Alkisah, di pinggir sebuah kota, tinggal seorang seniman pematung
yang sangat terkenal di seantero negeri. Hasil karyanya yang halus,
indah, dan penuh penghayatan banyak menghiasi rumah-rumah
bangsawan dan orang-orang kaya di negeri itu. Bahkan, di dalam istana
kerajaan hingga taman umum milik pemerintah pun, dihiasi dengan
patung karya si seniman itu. Suatu hari, datang seorang pemuda yang
merasa berbakat memohon untuk menjadi muridnya. Karena niat dan
semangat si pemuda, dia diperbolehkan belajar padanya. Bahkan, ia juga
diijinkan untuk tinggal di rumah paman si pematung. Sejak hari itu,
mulailah dia belajar dengan tekun, mengukur ketepatan bahan adonan
semen, membuat rangka, cara menggerakkan jari-jari tangan, dan
mengenali setiap tekstur sesuai bentuk dan jenis benda yang akan dibuat
patung, dan berbagai kemampuan mematung lainnya. Setelah belajar
sekian lama, si murid merasa tidak puas. Sebab, menurutnya, hasil
patungnya belum bisa menyamai keindahan patung gurunya. Dia pun
kemudian menganalisa dengan seksama, lantas memutuskan meminjam
alat-alat yang biasa dipakai gurunya. Dia berpikir, rahasia kehebatan
sang guru pasti di alat-alat yang dipergunakan. “Guru, bolehkan saya
meminjam alat-alat yang biasa Guru pakai untuk mematung? Saya ingin
mencoba membuat patung dengan memakai alat-alat yang selalu dipakai
guru agar hasilnya bisa menyamai patung buatan Guru.” “Silakan pakai,
kamu tahu dimana alat-alat itu berada kan? Ambil saja dan pakailah,”
jawab sang guru sambil tersenyum. Selang beberapa hari, dengan wajah
lesu si murid mendatangi gurunya dan berkata, “Guru, saya sudah
berusaha dan berlatih dengan tekun sesuai petunjuk Guru, memakai alatalat
yang biasa dipakai Guru. Kenapa hasilnya tetap tidak sebagus
patung yang Guru buat?” “Anakku, gurumu ini belajar dan berlatih
membuat patung selama puluhan tahun. Mengamati obyek benda,
mencermati setiap gerak dan tekstur, kemudian berusaha
menuangkannya ke dalam karya seni dengan segenap hati dan seluruh
pikiran. Tidak terhitung berapa kali kegagalan yang telah dibuat, tapi
tidak pernah pula berhenti mematung hingga hari ini. Bukan alat-alat
bantu yang engkau pinjam itu yang kamu butuhkan untuk menjadi
seorang pematung handal, tetapi jiwa seni dan semangat untuk
menekuninya yang harus engkau punyai. Dengan begitu, lambat laun
engkau akan terlatih dan menjadi pematung yang baik.” “Terima kasih
Guru, saya berjanji akan terus berlatih, mohon Guru bersabar mengajari
saya.” Untuk menciptakan sebuah maha karya, tidak cukup hanya
mengandalkan talenta semata. Kita butuh proses belajar dan ketekunan
berlatih bertahun-tahun. Bahkan, meski dibantu alat-alat secanggih
apapun, hasil yang didapat sebenarnya sangat tergantung pada tangantangan
terampil dan terlatih yang menggerakkannya. Demikian pula
dalam kehidupan ini, jika ingin meraih prestasi yang gemilang, ada harga
yang harus kita bayar! Apapun bidang yang kita geluti, apapun talenta
yang kita miliki, kita membutuhkan waktu, fokus dan kesungguhan hati
dalam mewujudkannya hingga tercapai kesuksesan yang
membanggakan!!!
Read rest of entry

CERITA BIJAK : LOYALITAS

Seorang pemuda karyawan sebuah kantor sering mengeluhkan
tentang karirnya. Ia merasakan bahwa setiap kali bekerja, tidak
mendapatkan kepuasan. Karirnya sulit naik, Gaji yang didapat pun
tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Karena itu ia pun sering
berpindah-pindah tempat kerja. Ia berharap, dengan cara itu ia bisa
memperoleh pekerjaan yang memberikannnya kepuasan, dari segi karir,
maupun gaji. Setelah sekian lama ia berganti pekerjaan, bukannya
kepuasan yang ia dapat, namun justru sering muncul penyesalan. Setiap
kali pindah pekerjaan, ia merasa menjumpai banyak kendala. Dan,
begitu seterusnya. Suatu ketika, pemuda itu berjumpa dengan kawan
lamanya. Kawan lama itu sudah menduduki posisi direktur muda di
sebuah perusahaan. Pemuda itu pun lantas bertanya, bagaimana caranya
si kawan bisa memperoleh kedudukan yang tinggi dengan waktu yang
relative cepat. "Kamu dekat dengan bosmu ya?" Tanya si pemuda
penasaran. Kawan lamanya itu hanya tersenyum. Ia tahu, si pemuda
curiga padanya bahwa posisi saat ini dikarenakan faktor koneksi.
"Memang, aku dekat dengan bos aku." Jawab kawan itu, "Tapi aku juga
dekat dengan semua orang di kantorku. Bahkan, sebenarnya aku
berhubungan dekat dengan semua orang, baik dari yang paling bawah
sampai paling atas. Kamu curiga ya? Aku bernepotisme karena bisa

menduduki posisi tinggi dalam waktu cepat?" Dengan malu, pemuda itu
segera meminta maaf, "Bukan itu maksud aku. Aku sebenarnya kagum
dengan kamu. Masih seusia aku, tapi punya prestasi yang luar biasa
sehingga bisa jadi direktur muda." Setelah menceritakan keadaannya
sendiri, si pemuda kembali bertanya, “Kawan, apa sih sebenarnya
rahasia sukses kamu?” Dengan tersenyum bijak si kawan menjawab,
"Aku tak punya rahasia apapun. Yang kulakukan adalah
mengaktualisasikan diriku atau fokus pada kekuatan yang aku punyai,
dan berusaha mengurangi kelemahan-kelemahan yang aku miliki. Itu
saja yang kulakukan. Mudahkan?" "Maksudmu bagaimana?" "Aku pun
sebenarnya pernah mengalami hal yang sama denganmu, merasa jenuh
dengan pekerjaan yang ada dan juga tak bisa naik jabatan. Namun,
suatu ketika, aku menemukan bahwa ternyata aku punya kemampuan
lebih di bidang pemasaran. Maka, aku pun mencoba untuk fokus di
bidang pemasaran. Aku menikmati bertemu dengan banyak orang. Selain
itu, aku pun mencoba terus belajar untuk mengusir kejenuhan pada
pekerjaan. Dan, inilah yang aku dapatkan.”
Read rest of entry

CERITA BIJAK : ANAK PEMALAS

Dikisahkan, sebuah keluarga mempunyai anak semata wayang.
Ayah dan ibu sibuk bekerja dan cenderung memanjakan si anak dengan
berbagai fasilitas. Hal tersebut membuat si anak tumbuh menjadi anak
yang manja, malas, dan pandai berdalih untuk menghindari segala
macam tanggung jawab. Setiap kali si ibu menyuruh membersihkan
kamar atau sepatunya sendiri, ia dengan segera menjawab, "Aaaah Ibu.
Kan ada si bibi yang bisa mengerjakan semua itu. Lagian, untuk apa
dibersihkan, toh nanti kotor lagi." Demikian pula jika diminta untuk
membantu membersihkan rumah atau tugas lain saat si pembantu
pulang, anak itu selalu berdalih dengan berbagai alasan yang tidak
masuk akal. Ayah dan ibu sangat kecewa dan sedih melihat kelakuan
anak tunggal mereka. Walaupun tahu bahwa seringnya memanjakan
anaklah yang menjadi penyebab sang anak berbuat demikian. Mereka
pun kemudian berpikir keras, bagaimana cara merubah sikap si anak?
Mereka pun berniat memberi pelajaran kepada anak tersebut. Suatu hari,
atas kesepakatan bersama, uang saku yang rutin diterima setiap hari,
pagi itu tidak diberikan. Si anak pun segera protes dengan kata-kata
kasar, "Mengapa Papa tidak memberiku uang saku? Mau aku mati
kelaparan di sekolah ya?" Sambil tersenyum si ayah menjawab, "Untuk
apa uang saku, toh nanti habis lagi?"Demikian pula saat sarapan pagi,
dia duduk di meja makan tetapi tidak ada makanan yang tersedia. Anak
itu pun kembali berteriak protes, "Ma, lapar nih. Mana makanannya?
Aku buru-buru mau ke sekolah." "Untuk apa makan? Toh nanti lapar
lagi?" jawab si ibu tenang. Sambil kebingungan, si anak berangkat ke
sekolah tanpa bekal uang dan perut kosong. Seharian di sekolah, dia
merasa tersiksa, tidak bisa berkonsentrasi karena lapar dan jengkel. Dia
merasa kalau orangtuanya sekarang sudah tidak lagi menyayanginya.
Pada malam hari, sambil menyiapkan makan malam, sang ibu berkata,
"Anakku. Saat akan makan, kita harus menyiapkan makanan di dapur.
Setelah itu, ada tanggung jawab untuk membersihkan perlengkapan
kotor. Tidak ada alasan untuk tidak mengerjakannya dan akan terus
begitu selama kita harus makan untuk kelangsungan hidup. Sekarang
makan, besok juga makan lagi. Hari ini mandi, nanti kotor, dan harus
juga mandi lagi. Hidup adalah rangkaian tanggung jawab, setiap hari
harus mengulangi hal-hal baik. Jangan berdalih, tidak mau melakukan
ini itu karena dorongan kemalasan kamu. Ibu harap kamu mengerti." Si
anak menganggukkan kepala, "Ya Ayah-Ibu, saya mulai mengerti. Saya
juga berjanji untuk tidak akan mengulangi lagi."
Read rest of entry
 

About Me

My photo
SELALU SUKA MENCOBA DENGAN HAL HAL YANG BARU, MENANTANG, DAN MEMACU ADRENALIN, TAPI MASIH DALAM KORIDOR ETIKA. OKE

Followers

MY FUN BOOKS